Berita Wisata terkini Bangkitnya Seni Genggong di Pegok Sesetan, Apa Sih Genggong?

Berita wisata terkini Sekehe Genggong Qakdanjur ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Denpasar menjadi Duta Seni Kota Denpasar dalam Pesta Kesenian Bali 2019.

"Kalau bukan kita, terus siapa lagi yang akan membangkitkan kesenian ini," ujar anak-anak muda komunitas seni Genggong di Banjar Pegok, Desa Sesetan, Kota Denpasar, Bali.

Pengakuan jujur ini sekaligus membangkitkan kembali seni Genggong yang selama ini tertidur pulas sejak puluhan tahun silam.

Apaan sih Genggong?

Genggong adalah alat musik khas Bali yang terbuat dari bambu dengan ukuran panjang 18-20 cm dan lebar 1,5-2 cm memiliki bunyi yang khas dan unik.

Cara memainkannya dengan menempelkan genggong pada bibir, sambil menggetarkan melalui tarikan tali (tekhnik ngedet) serta menggunakan metode resonansi tenggorokan untuk menghasilkan nada.

Di beberapa belahan dunia lainnya alat musik sejenis genggong ini sering disebut Jew's harp atau mouthharp (Barat), drumbla (Slowakia), khomus (Siberia), morchang (Rajasthan), karinding (Jawa Barat), dan kuriding (Kalimantan Selatan).

Tercetus kreativitas seni yang sederhana pada zamannya antara tahun 1930-an, ada seorang pemuda asli Pegok Sesetan bernama I Ketut Regen (Qakdanjur/kakek Danjur) memikat hati para sahabatnya dalam memainkan Genggong.

Ketika itu, I Ketut Regen membentuk komunitas Genggong yang bertujuan menghibur diri, bersosialisasi, bertemu sapa hingga menjalin tali kasih dan cinta.

Namun demikian, seiring berkembangnya zaman yang sangat dinamis dan pengaruh budaya asing, Komunitas Genggong Pegok ini secara pelan-pelan redup menghilang selama puluhan tahun.

Apalagi ditambah dengan minat anak muda untuk mempelajari khasanah budaya sendiri mulai dilupakan.

Melihat kondisi tersebut, anak-anak muda Pegok berinisiatif merekonstruksi atau merevitalisasi seni genggong tersebut.

Comments