Berita Wisata terkini Tradisi Kupatan ala Warga Pekauman yang Tak Lekang oleh Waktu

Berita wisata terkini Tumpeng raksasa dari ketupat, lepet, buah-buahan dan sayuran, yang ada di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.

Tradisi lebaran ketupat atau yang biasa dikenal oleh warga Gresik, Jawa Timur, dengan sebutan kupatan, lazim dirayakan sepekan pasca Hari Raya Idul Fitri.

Kebanyakan warga Gresik pun biasa memperingatinya dengan makan bersama sajian ketupat, baik di serambi masjid, mushala, maupun balai desa setempat.

Namun sedikit berbeda dengan tradisi kupatan yang dirayakan oleh warga Pekauman, kelurahan yang berada di kawasan Gresik kota. Tepatnya kelurahan yang berada di belakang Masjid Jami Gresik atau sebelah barat alun-alun Kabupaten Gresik.

Lantaran biasanya di banyak wilayah Gresik, kupatan dirayakan pada malam hari sebelum hari H (H-1) atau pada pagi hari saat hari H, maka warga Pekauman merayakan tradisi kupatan pada saat malam hari H, saat warga di Kabupaten Gresik yang lain sudah mulai kembali menjalani aktivitas pekerjaannya masing-masing.

"Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak dulu, bahkan sebelum saya lahir. Seminggu tepat usai lebaran, warga di sini pada malam harinya merayakan tradisi kupatan ini, tradisi yang terus terpelihara sampai sekarang," ujar salah seorang warga Pekauman, Januar Sofianda (36), Rabu (12/6/2019) malam.

Tampak warga sekitar maupun warga dari luar, datang berkunjung ke Pekauman untuk unjung-unjung atau bersilaturrahmi yang membuat daerah Pekauman terlihat lebih ramai dibanding dengan daerah lain di sekitarnya. Karena memang yang merayakan kupatan pada malam hari H, hanya di daerah Pekauman saja.

"Setahu saya, budaya minta maaf dengan unjung-unjung di Pekauman itu ya memang hari ini, tidak seperti di daerah lain yang unjung-unjung ke rumah sanak famili maupun tetangga usai shalat Idul Fitri," katanya.

Huri -- sapaan akrab Januar Sofianda -- menjelaskan, bila kebiasaan warga di Pekauman memang tidak pernah melakukan unjung-unjung selepas shalat Idul Fitri. Dengan kebiasaan tersebut baru dilakukan sepekan kemudian.

"Biasanya selesai shalat Idul Fitri ya nggak ada apa-apa, baru sekarang unjung-unjungnya. Karena biasa setelah shalat, kami semua balik ke rumah masing-masing dan kemudian melaksanakan puasa sunnah Syawal selama enam hari, baru setelahnya unjung-unjung di momen kupatan dan itu sudah menjadi tradisi di sini," ucap dia.

Lantaran bersamaan dengan agenda kupatan, setiap keluarga yang ada di Kelurahan Pekauman biasa menyambut tamu yang datang berkunjung dengan sajian berupa ketupat sayur serta lepet, untuk menemani jajanan hari raya yang telah disiapkan.

"Selain ketupat sayur dan lepet, menu sajian khas dan wajib itu adalah obos, seperti kebab yang lebih mantap saat dinikmati dengan kuah ketupat sayur. Obos ini juga seperti menu wajib, kan dulunya di sini juga banyak warga keturunan Arab juga," jelasnya.

Tidak sekadar menjaga tradisi warisan leluhur, warga Pekauman terutama kalangan remaja juga mulai melakukan beberapa inovasi dalam memeriahkan perayaan kupatan di desa mereka, dengan tentunya tidak harus mengurangi nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan.

Salah satu diantaranya adalah dengan membuat beberapa titik spot yang bisa digunakan oleh para pengunjung dari luar maupun warga Pekauman sendiri, untuk melakukan swafoto dalam rangka mengenang perayaan kupatan yang ada di Kelurahan Pekauman.

"Lumayan, banyak juga yang antusias untuk foto bersama keluarga atau teman-temanya di tempat yang disediakan. Padahal, konsepnya juga sederhana tapi banyak yang suka," tutur salah seorang warga Pekauman yang lain, Rizal.

Adapun budayawan Gresik yang juga merupakan Ketua Masyarakat Pencinta Sejarah dan Budaya Gresik (Mataseger), Kris Aji menjelaskan, kebiasaan puasa Syawal setelah Hari Raya Idul Fitri yang dilaksanakan warga Pekauman awalnya diperkenalkan oleh ulama bernama Kiai Baka, yang masih keturunan Sunan Giri.

"Kiai Baka meminta santrinya, agar mengikuti sunah Rasul dengan berpuasa Syawal selama enam hari. Tradisi itu diteruskan hingga kini. Kupatan juga menyambung silaturahim yang putus, terutama yang lama tidak bertemu dengan mengakui kesalahan dan kemudian saling bermaaf-maafan," kata Kris Aji.

Comments